Jumat, 11 November 2016

Etika Bisnis Perusahaan Unilever



                PT Unilever Indonesia Tbk (perusahaan) didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai Zeepfabrieken N.V. Lever dengan akta No. 33 yang dibuat oleh Tn.A.H. van Ophuijsen, notaris di Batavia,tertanggal 30 Juni 1997, nama perusahaan diubah menjadi PT Unilever Indonesia Tbk. PT Unilever bergerak dalam bidang produksi sabun, deterjen, margarin, minyak sayur dan makanan yang terbuat dari susu, es krim, makanan dan minuman dari teh dan produk-produk kosmetik. PT Unilever selalu menekankan pada integritas dan kualitas tinggi, peduli kepada masyarakat dan lingkungan hidup.

Etika Bisnis dalam Perusahaan Unilever
1. Standar Perilaku
Dalam melaksanakan semua kegiatan, kami melakukannya dengan penuh kejujuran, integritas, keterbukaan serta menghormati hak azasi manusia, menjaga kepentingan para karyawan kami dan menghormati kepentingan sah dari para relasi kami.
2. Mematuhi Hukum
Seluruh perusahaan Unilever dan para karyawannya berkewajiban mematuhi ketentuan hukum dan peraturan masing-masing negara di tempat mereka melaksanakan usahanya. 
3. Karyawan
Unilever memiliki komitmen pada keanekaragaman dalam lingkungan kerja yang diwarnai oleh sikap saling percaya dan saling menghormati dimana semua memiliki rasa tanggung jawab atas kinerja dan reputasi Perseroan. Kami merekrut, mempekerjakan, dan mengembangkan para karyawan hanya atas dasar kualifikasi dan kemampuan yang dibutuhkan bagi pekerjaan yang harus dilakukan. Kami memiliki komitmen untuk menyediakan kondisi kerja yang aman dan sehat. Kami tidak akan menggunakan sarana kerja apapun yang bersifat memaksa atau mempekerjakan anak. Kami bertekad bekerjasama dengan karyawan demi mengembangkan dan memperkuat ketrampilan dan kemampuan setiap individu. Kami menghargai martabat dan hak individu untuk kebebasan berserikat dalam satu asosiasi. Kami akan memelihara terjalinnya komunikasi yang baik dengan para karyawan melalui informasi dari perusahaan dan proses konsultasi. 
4. Pemegang Saham
Unilever melaksanakan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik dan bertaraf internasional. Kami menyediakan informasi atas kegiatan kami, struktur dan situasi serta kinerja finansial kepada pemegang saham pada waktunya secara teratur dan benar. 
5. Mitra Usaha
Unilever memiliki komitmen tinggi dalam menjalin hubungan yang saling bermanfaat  dengan para pemasok, pelanggan, dan mitra usaha. Dalam jalinan bisnis, kami mengharapkan para mitra kami untuk mematuhi prinsip bisnis yang selaras dengan prinsip bisnis kami. 
6. Keterlibatan pada masyarakat
Unilever berupaya menjadi perusahaan yang dapat diandalkan, dan sebagai bagian integral dari masyarakat serta memenuhi kewajiban terhadap masyarakat dan komunitas setempat. 
7. Kegiatan Umum
Perusahaan Unilever diharapkan untuk menggerakkan dan mempertahankan kepentingan bisnisnya yang sah. Unilever akan bekerjasama dengan instansi pemerintah dan organisasi lainnya, baik secara langsung maupun melalui asosiasi-asosiasi dalam rangka mengembangkan legislasi dan peraturan lainnya yang mungkin memengaruhi kepentingan bisnis. Unilever tidak mendukung partai politik atau pun memberi sumbangan yang dapat membiayai kelompok-kelompok tertentu yang kegiatannya diperkirakan akan mendukung kepentingan partai. 
8. Lingkungan
Unilever memiliki komitmen untuk terus menerus mengadakan perbaikan dalam pengelolaan dampak lingkungan dan mendukung sasaran jangka panjang untuk mengembangkan suatu bisnis yang berkelanjutan. Unilever akan bekerjasama dalam kemitraan dengan pihak lain untuk menggalakkan kepedulian lingkungan, meningkatkan pemahaman akan masalah lingkungan dan menyebar-luaskan budaya karya yang baik. 
9. Inovasi
Dalam upaya melaksanakan inovasi ilmiah demi memenuhi kebutuhan konsumen, kami akan senantiasa merujuk pada keinginan konsumen dan masyarakat. Kami akan bekerja atas dasar keilmuan yang tepat, dan menerapkan standar keamanan produk secara ketat. 
10.Persaingan
Unilever percaya akan persaingan ketat namun sehat dan mendukung pengembangan perundang-undangan tentang prinsip persaingan yang wajar. Perusahaan Unilever beserta seluruh karyawannya akan melakukan kegiatan atas dasar prinsip persaingan yang sehat dan mengikuti semua peraturan yang berlaku. 
11.Integritas Bisnis
Unilever tidak menerima ataupun memberi, baik secara langsung maupun tidak langsung, suapan atau keuntungan lainnya yang tidak pantas demi keuntungan bisnis atau finansial. Tidak satupun karyawan kami yang boleh menawarkan, memberi atau menerima hadiah atau pembayaran yang merupakan, atau dapat diartikan sebagai sarana suap. Setiap tuntutan, atau penawaran suap harus ditolak langsung dan dilaporkan kepada manajemen. Catatan akuntansi Unilever berikut dokumen pendukungnya harus secara tepat menjelaskan dan mencerminkan kondisi transaksinya. Tidak ada transaksi dana atau aset yang disembunyikan atau tidak dicatat. Semuanya akan dicatat serta dibukukan. 
12. Benturan Kepentingan
Seluruh karyawan Unilever diharapkan menghindarkan diri dari kegiatan pribadi dan kepentingan finansial yang dapat menyebabkan benturan kepentingan dengan tanggung jawab mereka terhadap Perseroan. Seluruh karyawan Unilever tidak dibenarkan mencari keuntungan pribadi atau bagi orang lain melalui penyalahgunaan kedudukan mereka. 
13. Kepatuhan, Pemantauan dan Pelaporan
Kepatuhan terhadap CoBP merupakan syarat utama bagi keberhasilan dan keberlanjutan bisnis kami. Direksi Unilever bertanggung jawab agar prinsip-prinsip tersebut dikomunikasikan, dipahami dan dipatuhi oleh seluruh karyawan dapat melaporkan secara rahasia dan tidak akan dirugikan akibat pelaporan tersebut. 
14. Implementasi Sistem Manajemen Mutu
Operasional usaha kami berlandaskan pada sejumlah sistem manajemen dengan persyaratan mutu yang ketat. Produk-produk, pabrik-pabrik operasional dan sistem-sistem internal kami telah memperoleh sertifikasi ISO 9001 selama lebih dari sepuluh tahun, yang diverifikasi setiap tahun. Bahkan kami telah menerapkan ISO 22000 Food Safety System untuk proses fabrikasi Foods & Beverages kami, sedangkan sistem manajemen lingkungan kami telah memenuhi ISO 14001 Environmental Management Standard. 
Keamanan produk selalu merupakan prioritas utama kami, dan kami telah membangun lembaga Safety and Envrionmental Assurance Center (SEAC) guna memberikan penilaian sekaligus jaminan terhadap produk maupun proses yang berlangsung. Produk-produk baru dan teknologi baru menjalani proses keamanan secara mandiri dan ketat, dan keseluruhan proses inovasi produk dihadapkan pada penilaian keamanan dan kesehatan yang intensif, termasuk dari aspek penilaian kepatuhan terhadap ketentuan peraturan maupun persyaratan legal. Serangkaian penilaian tersebut dilakukan kembali sebelum peluncuran suatu produk. Kadangkala, suatu produk secara insidental diluncurkan ke pasar tanpa melalui standar keamanan dan kualitas yang tinggi. Produk-produk demikian mungkin mengalami cacat kualitas, kontaminasi bahan mentah, ataupun pelabelan ingredient yang salah. 
Untuk memastikan terpenuhinya kualitas dalam mata rantai pasokan, para pemasok hanya dapat diluluskan setelah menjalani audit yang cermat tentang keandalan produk, manajemen mutu dan kepatuhan terhadap berbagai kriteria atas dasar praktik bisnis yang wajar dan berkelanjutan. Setiap pasokan bahan mentah harus melalui serangkaian checkpoint untuk memastikan keamanan dan kepatuhannya dengan ketentuan peraturan dan persyaratan hukum yang berlaku. 
15. Suara Konsumen
Perseroan menangani keluhan dan pertanyaan konsumen melalui sebuah layanan konsumen khusus yang disebut “Suara Konsumen.” Melalui Suara Konsumen, kami berupaya untuk mempererat hubungan antara Perseroan dengan para konsumen dan pelanggan kami dengan memberikan respon atas aspirasi dan ekspektasi mereka terhadap produk-produk kami, sekaligus untuk meningkatkan kepuasan mereka dalam mengonsumsi produk-produk kami. 
16. Pengadaan Barang dan Jasa
Praktik-praktik pengadaan kami diatur oleh Prinsip Kemitraan Bisnis Unilever dan Etika Sumber Pertanian Lestari. Prinsip Kemitraan Bisnis kami dirancang untuk memastikan berlangsungnya kondisi kerja yang adil dalam mata rantai pasokan, termasuk penghargaan terhadap hak-hak azasi manusia, kebebasan berserikat, sistem penggajian dan waktu kerja yang sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di Indonesia.  Kami juga berupaya untuk memastikan bahwa para pemasok kami memenuhi standar kesehatan, keamanan dan perlindungan lingkungan. Sedangkan Etika Sumber Pertanian Lestari bertujuan untuk mendorong para pemasok dan petani untuk mengadopsi praktik-praktik perkebunan lestari. 
Kebijakan kami dalam memperoleh sumber material memprioritaskan pada sumber-sumber lokal dimana memungkinkan. Seluruh calon pemasok menjalani proses audit atas dasar keandalan dan manajemen mutu mereka, dan kinerja lingkungan, hak-hak azasi, serta semua isu sosial disaring melalui sejumlah kriteria Prinsip Kemitraan Bisnis kami.

Pelanggaran yang Mungkin Dilakukan PT. Unilever Tanpa Etika Bisnis
      Dampak pencemaran lingkungan yang timbul akibat limbah pabrik PT. Unilever  tanpa adanya etika bisnis dalam tanggung jawab sosial :


1. Dampak Pencemaran air
Air yang telah tercemar dapat mengakibatkan kerugian terhadap manusia juga ekosistem yang ada didalam air. Kerugian yang disebabkan oleh pencemaran air dapat berupa :
Air tidak dapat digunakan lagi untuk keperluan rumah tangga, hal ini diakibatkan oleh air sudah tercemar sehingga tidak bisa digunakan lagi apalagi air ini banyak manfaatnya seperti untuk diminum, mandi, memasak mencuci dan lain-lain.
2. Dampak Pencemaran Udara
Dengan dibangunnya pabrik di perkotaan asapnya dapat mengakibatkan polusi udara sehingga menganggu kenyamanan bagi para pemakai jalan. Apabila udara telah tercemar maka akan menimbulkan penyakit seperti sesak napas.
3. Dampak Pencemaran Tanah.
Tanah yang telah tercemar oleh bahan pencemar seperti senyawa karbonat maka tanah tersebut akan menjadi asam, H2S yang bersama CO  membentuk senyawa beracun didalam tanah sehingga cacing penggembur tanah mati.
Ketiga dampak pencemaran tanah ini dapat berakibat buruk terhadap lingkungan terutama karena hasil kegiatan industri PT Unilever bila limbahnya langsung dibuang tanpa melalui proses pengolahan lebih dahulu.

Faktor Penyebab Perusahaan Melakukan Pelanggaran
a. Menurunnya formalism etis (moral yang berfokus pada maksud yang berkaitan dengan perilaku dan hak tertentu.
b. Kurangnya kesadaran moral utilarian (moral yang berkaitan dengan memaksimumkan hal terbaik bagi orang sebanyak mungkin)
c. Undang – undang atau peraturan yang mengatur perdagangan, bisnis dan ekonomi masih kurang
d. Lemahnya kedudukan lembaga yang melindungi hak – hak konsumen
e. Rendahnya tingkat pendidikan, pengetahuan serta informasi mengenai bahan, material berbahaya
f. Pandangan yang salah dalam menjalankan bisnis (tujuan utama bisnis adalah mencari keuntungan semata, bukan kegiatan social)
g. Rendahnya tanggung jawab social atau CSR (Corporate Social Responsibility)
h. Kurangnya pemahaman tentang prinsip etika bisnis

Upaya yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk mengatasi pelanggaran antara lain:
1.    Penegakkan budaya berani bertanggung jawab atas segala tingkah lakunya. Individu yang mempunyai kesalahan jangan bersembunyi di balik institusi. Untuk menyatakan kebenaran kadang dianggap melawan arus, tetapi sekarang harus ada keberanian baru untuk menyatakan pendapat.
2.   Ukuran-ukuran yang dipakai untuk mengukur kinerja jelas. Bukan berdasarkan  kedekatan dengan atasan, melainkan kinerja.
3.   Pengelolaan sumber daya manusia harus baik.
4.   Visi dan misi perusahaan jelas yang mencerminkan tingkah laku organisasi.

KESIMPULAN :
1.    PT Unilever telah menggunakan etika dalam melakukan bisnisnya.
2.    Pelanggaran-pelanggaran seperti pencemaran lingkungan dapat terjadi apabila PT Unilever tidak menggunakan etika bisnis.

SARAN :
Dari hasil penulisan diatas diharapkan PT Unilever konsisten dalam menjalankan etika bisnisnya agar menghindari segala pelanggaran yang dapat terjadi. Dan mempertahankan serta meningkatkan segala prestasi yang telah dicapai dan terus memberikan dampak yang positif terhadap bisnisnya dan juga untuk masyarakat.

SUMBER :

KEGEMARAN Season 2

hahahaha... kali ini saya menulis kegemaran lagiiiiiii~~~
yang kemarin nulis aja bingun gemarnya apa, sekarang suruh nulis tentang kegemaran lagi... baiklah tapi maaf nih ya kalau kegemaran saya yang saya tulis disini berbeda sama kegemaran saya yang season 1 kemarin.... anggap saja kegemaran yang saya miliki banyak...

kegemaran~~~ hobbi~~~
apa yaaaaa....?
saya beneran bingung ih, karna setiap saya lagi dirumah saya hanya dikamar, tiduran, dengerin lagu. udah itu aja udah buat saya nyaman... ya itu juga gak sepanang hari seperti itu, ada sesi mencuci pakaian, nyetrika, masak, dan ngurusin adik saya yang masih sekolah dasar, agak kaya ibu rumah tangga  yaaa... hahahaha... ya gak papa lah ya itung-itung latihan jadi seorang istri yang solehah (amiiin) hahaha.
munkin sesekali kalau sedang jenuh banget dirumah saya ke mall nonton film-film baru karna saya juga sangat suka nonton film dibioskop, naaah... ini berarti kegemaran kan??? berarti kegemaran saya nonton film kan?? 
ya pokoknya seperti itulah... tapi untuk saat ini lagi jarang nonton, karna kondisi keuangan bulanan yang terus menerus habis di tengah bulan hahaha... maklum mahasiswi tingkat akut, pengeluarannya ada aja. selain nnton saya suka makan diluar kalo lagi jenuh dirumah, maksudnya makan diluar bukan diteras rumah yaaa... tapi ditempat makan yang bisa buat ngobrol sama temen tapi pesennya cuma minuman... hahahaha yang penting gibah sama temen itu udah nikmat banget, rasanya dunia kaya milik kita aja orang lain yang ada disana cuma nebeng hehehe...
apa lagi yaaa... oh iya, saya juga liat-liat dan cari diskonan, tapi ya itu. saya cuma liat-liat dan cari... belinya belakangan nunggu uang turun dari bos besar. kadang saya merasa sedih karna gak semua apa yang saya mau bisa saya dapatkan dengan cepat (termasuk pacar) hahahaha... bercanda deeeeng...
tapi saya bersyukur saya masih bisa hidup tanpa kekurangan seperti orang lain yang ingin makan sepotong ayam saja gak bisa (ini istilah yaaaa, bukan maksudnya sombong. jangan salah persepsi).
saya bersyukur seperti ini, karna saya sadar saya masih minta uang sama orang tua saya. jadi agak malu juga mintanya kalo saya selalu menuruti kemauan saya, lagi pula saya masih punya 2 orang adik dan pasti pengluaran orang tua saya sudah banyak setiap bulannya. jadi ketika saya merasa "kenapa sih gw mau beli ini aja gak bisa, beli itu gak bisa, padahal temen-temen gw punya ini itu beli ini itu gampang banget" saya mikir "kalo gw apa-apanya diturutin kapan gw ngerasainnya kalo cari duit itu susah"... jadi ya saya sabar-sabarin diri aja buat beli apa yang saya mau ketika saya sudah bisa mencari uang sendiri dan bisa menghasilkan uang dengan kerja keras saya sendiri, sepertinya itu jauh lebih nikmat rasanya, ya itung-itung sambil nenangin diri sendiri biar gak sirik sama apa yang orang punya. ini apaan sih ya? kok kayanya gak nyambung sama kegemeran yaaa... kayanya keluar jauh nih dari materi yaaaa... tapi yaudahlah ya gapapa, dari pada gak ada yang diceritain. biar gak bosen juga gitu bacanya. kalo kegemaran doang kan monoton banget yaaa apalagi kegemaran saya gak jelas apaan.
apa lagi yaaaa....
~~~
~~~
~~~
~~~
~~~
mhhhhhh......
~~~
~~~
~~~
bingung iiih... udahan aja apa yaaa, besok lagi dilanjut ya,, kali aja masih ada season 3
terimakasih ya sudah mau buang waktunya untuk baca tulisan saya yang tidak ada bobotnya ini.
karna bobot cuma ada ditimbangan badan saya. hahaha
terimakasih....

Selasa, 11 Oktober 2016

Kegemaran

     Nama saya Andriani Iswara, saat saya meulis ini saya berada di tingkat 4 semester 7 jurusan akuntansi di salah satu universitas swasta di daerah Bekasi. Awalnya saya tidak percaya kalau saya harus mengerjakan tugas tentang hobi saya, tapi ya mau diapakan lagi memang kenyataannya tugas saya seperti ini. 
      Langsung saja saya bercerita tentang hobi saya, huft... saya sendiri juga bingung kalau ditanya apa hobi atau kegemaran saya, saya bingung harus menjawab apa. karna banyak sekali yang saya suka melakukan hal itu. Hal yang paling saya suka ketika dirumah ya hanya makan, menonton televisi, santai-santai sambil bermain handphone ketika sudah bosan dengan kegiatan itu saya suka keluar rumah untuk mencari film-film bagus yang saya suka dibioskop kalu tidak ada film yang saya suka ya saya hanya jalan-jalan mengelilingi mall tersebut. saya tidak gemar membaca buku cerita atau novel seperti wanita-wanita kebanyakan diluar sana, karna saya tipe orang yang sangat mudah bosan dan jenuh. saya lebih suka bila diceritakan daripada harus membaca sendiri isi novel atau cerita tersebut. jadi, intinya hobi saya apa juga saya belum tahu sampai sekarang. mungkin yang terlintas di pikiran saya jika diminta untuk menjawab apa hobi saya, saya hanya menjawab hobi saya jalan-jalan kemanapun itu tapi masih dalam kewajaran.
      Kalau masalah masa depan atau untuk kedepan saya mau apa? jawaban dan keinginan saya simpel, saya ingin lulus dari universitas ini dengan nilai yang baik ---) bekerja disebuah perusahaan besar ---) membuat kedua orang tua dan adik-adik saya bahagia dan bangga memiliki anak dan kakak seperti saya ---) menemukan laki-laki yang bisa mencintai saya dengan segala kekurangan saya ---) menikah dengan lelaki tersebut ---) dan bahagia. Hanya itu impian saya untuk masa depan saya. namun sesuatu itu tidak bisa saya dapatkan dengan mudah dan tanpa usaha setra kerja keras.

kasus pelanggaran etika profesi akuntansi

Kasus Transaksi Derivatif PT. Indosat Tbk.
Pada laporan keuangan periode 2006, PT. Indosat melaporkan adanya kerugian sebesar Rp 438 miliar yang di klaim sebagai ”Rugi dari perubahan nilai wajar atas transaksi derivatif-bersih” (Loss on Change in Fair Value of Derivatifes-Net). Pengakuan atas kerugian ini muncul karena perusahaan tidak menerapkan PSAK sebagaimana mestinya.
Dalam PSAK no 55 ”Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktifitas Lindung Nilai” disebutkan bahwa transaksi derivatif mensyaratkan adanya dokumentasi formal atas analisa manajemen resiko dan analisa efektifitas transaksi jika ingin melindungi resiko dari transaksi derivatif ini. Selain itu suatu entitas diwajibkan pula untuk melaporkan setiap transaksi derivatif paling tidak setiap tiga bulan dalam laporan keuangan perusahaan.
Dalam surat yang ditujukan kepada manajemen Indosat (management letter) pada tahun 2004, 2005 dan 2006, auditor eksternal Indosat menyarankan pihak manajemen Indosat untuk segera membenahi kebijakan formal manajemen resiko yang berkaitan dengan transaksi derivatif yang dilakukan oleh Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2,5 trilliun. Transaksi derivatif ini meliputi 17 kontrak perjanjian dengan berbagai institusi keuangan.
Kasus ini memberikan contoh dari besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan di Indonesia diakibatkan tidak adanya analisa yang memadai terhadap transaksi derivatif yang akan dilakukan. Akibat kerugian ini pula negara kehilangan potensi pajak baik atas laba bersih perusahaan maupun atas deviden yang dibagikan.

Pembahasan
Pada kasus pelanggaran prosedur oleh KAP, menunjukkan bahwa akuntan publik masih rentan terhadap isu profesionalitas dalam pekerjaannya. Dilema yang dihadapi akuntan publik terjadi ketika ada benturan antara kepentingan klien dengan independensi auditor itu sendiri. Salah satu yang menjadi penyebab adalah fee audit yang dibayarkan oleh klien. Di satu sisi auditor ingin agar audit yang dilakukannya sesuai dengan prosedur dan standar yang ditetapkan serta tidak melanggr kode etik profesi, namun di sisi lain auditor juga dituntut nleh klien yang membayarnya agar diberikan kemudahan dan hasil yang sesuai dengan keinginan klien. Dilema ini bisa terjadi pada semua KAP. Sebagaimana diketahui, laporan auditor independen saat ini dijadikan sebagai syarat dalam berbagai kondisi seperti dalam hal pengajuan kredit/pembiayaan dari bank, syarat dalam mendaftar menjadi perusahaan terbuka (go public), dan lain-lain.

Kesimpulan
Pentingnya pendidikan etika profesi bagi para akuntan sebagai bekal dalam menghadapi potensi kecurangan pelanggaran etika akan terus terjadi jika tidak ada pemahaman yang mendalam dari akuntan terhadap pentingnya untuk memegang teguh etika profesi. Bisa jadi mereka tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh kecurangan yang mereka lakukan. Salah satu cara untuk menekan jumlah akuntan yang menyimpang serta menanamkan kesadaran akan pentingnya menerapkan kode etik profesi adalah dengan melakukan sosialisasi intensif tentang profesionalitas dan kode etik akuntan dalam lingkungan kerja. Misalnya, secara rutin IAI sebagai lembaga akuntan terbesar di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan seminar untuk meningkatkan kompetensi dan kesadaran terhadap kode etik profesi kepada anggotanya. Agar lebih efektif, kegiatan semacam ini juga dapat dilakukan di tingkat pendidikan baik dari tingkat SMP, SMA hingga ke tingkat Perguruan Tinggi. Caranya adalah dengan memberikan mata ajaran atau mata kuliah tentang etika bisnis dan profesi, akuntansi forensik dan deteksi kecurangan, seperti yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang. Sebagaimana diketahui, para calon akuntan juga merupakan anggota luar biasa dari IAI. Dengan adanya pendidikan yang intensif kepada calon akuntan ini, maka diharapkan tindakan kecurangan dan penyimpangan dalam etika profesi dan bisnis di masa mendatang dapat berkurang dan citra profesi akuntan akan menjadi lebih baik lagi.
Kompetensi dalam profesi akuntan memang sangat penting namun etika profesi juga tidak kalah pentingnya. Tidak heran jika lembaga IAI, IAPI, maupun IAMI memiliki kode etik dan sertifikasi untuk menjaga citra anggotanya. Pendidikan serta sosialisasi intensif untuk menumbuhkan kesadaran akan kode etik profesi perlu dilakukan karena potensi kecurangan dalam lingkungan kerja akan selalu ada. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran etika maupun kecurangan oleh akuntan. Dengan akuntan yang berkompeten dan juga beretika, maka profesi akuntan yang lebih baik dalam mewujudkan good corporate governance (GCG) di Indonesia dapat segera terwujud. Kita tidak boleh lupa bahwa profesi akuntan ini dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas, dan tidak hanya internal perusahaan saja.

Minggu, 29 Mei 2016

Yes or No Questions, Information Questions, Embedded Questions and Tag Questions


Exercise 16: Embedded Questions
  • Who will be elected president? I’m not sure who will be elected president?
  • Whose book is it? They haven’t discovered whose book is it?
  • How much will it cost to repair the car? The mechanic told me how much will cost to repair the car?
  • How was the murder committed? The police are still trying to decide how the murder communited was?
  • How tall is John? Do you know how tall John is?
  • How tell does she play the guitar? You can’t imagine how tell she plays the guitar?
  • When will the next exam take place? Do you know when will the next exam take place?
  • Where did they spend their vacation? Angela told me where they spent their vacation?
  • Why are they buying a new house? I don’t know why they are buying a new house?
  • How long does the class last? The catalog doesn’t say how long the class does last?

Exercise 17: Tag Questions
  • You’re going to school tomorrow, aren’t you?
  • Gary signed the petition, didn’t he?
  • There’s an exam tomorrow, isn’t there?
  • Beverly will be attending the university in September, won’t he?
  • She’s been studying English for two years, hasn’t she?
  • It sure is sunny today, isn’t it?
  • He should stay in bad, Shouldn’t he?
  • You can’t play tennis today, can you?
  • There aren’t any peaches left, are there?
  • We’ve seen that movie, haven’t we?

Example 1: Yes or No Questions
  • Has my brother been driving for an hour?
  • Does my father going to office today?
  • Did my causin attend the party tonight?
  • Does mother tell me the news?
  • Have you had a breakfast, dad?

Example 2: Information Questions
  • What time did your father come to school?
  • When was my born, mom?
  • Why your uncle asking you the question?
  • Where did your brother go list night?
  • How long did my mother finish this cooking?

Example 3: Embedded Questions
  • Can you tell me where my uncle lives?
  • Do you know if my sister can drive an automatic car?
  • Do yuo have any think why my mother left work without saying anything?
  • I wanted to know if my father is tired all the time?
  • I wonder if you could lend my causin a car?

Example 4: Tag Questions
  • The computer my aunt is broken, isn’t it?
  • My soon has just go back from America, hasn’t he?
  • Your father works in a bank, dosen’t he?
  • I am meet my causin at 5.00 in the hotel lobby, aren’t we?
  • My uncle live in Jakarta, don’t it?

Rabu, 27 April 2016

My Story



          I offten visit to Jogja city, because Jogja is my born city and I loved this city like I love my self. Jogja is very wonderfull place, in Jogja I visit to Mallioboro market, Kraton Jogja and Parangtritis beach a lot of the story if this beach residence of Nyiroro Kidul or many people say queen of the south beach. There a violation in this beach that is shouldn’t wear green clothes, because Nyiroro Kidul loved a green color, at the same time in a Mallioboro market is a best market which stay on Jogja, because all of marketeer stay on there. While a Kraton Jogja is a very sacred place on Java comunity.
          Place that really my wanted visit is a Paris. Why Paris? Because, Paris is a romantic place for me, i want to going to Paris with my lovely men and going  to Eiffel Tower with him. Take a picture, dinner and many more romantic activity over there many wishes which doing.
          Place I want to visit but impossible is Everest mountain. Hahaha... Everest mountain is very beautifully mountain in a world, snowy mountain, more the tallest and dashing. How possible if I want to going to mountain in Indonesian only I can’t permission from my father, however Everest mountain which are abroad.